| |
Viscose adalah serat buatan pertama yang diperkenalkan dalam
produksi tekstil. Viscose mempunyai sifat-sifat yang sangat bagus,
yang dapat dimodifikasi dan dioptimalkan untuk aplikasi tekstil
dan bahan bukan tenunan yang berbeda.
Nama tersebut diambil (1924), yang mengacu kepada "sutra
buatan", oleh Departemen Commerce Amerika Serikat, dan asosiasi-asosiasi
komersial lainnya. Pada awal 1665, naturalis Inggris, Robert Hooke
telah menyarankan kemungkinan untuk membuat sutra buatan, tapi serat
tekstil buatan pertama diproduksi pada tahun 1884 oleh ilmuwan Prancis,
Hilaire de Chardonnet, dan dibuat oleh beliau pada tahun 1889.
Tidak terkenal pada awalnya karena terlalu lustrous dan tidak bagus
bila dicuci, viscose telah semakin diperbaiki. Selulosa, yang awalnya
berasal dari linter kapas, tapi sekarang lebih banyak berasal dari
pulp kayu, dicuci, diputihkan dan ditekan menjadi lembaran, kemudian
dicampur dengan bahan kimia, selanjutnya dimasukkan dibawah tekanan
yang kuat kedalam lubang-lubang yang sangat kecil dalam suatu spinneret,
menjadi filamen yang bersatu menjadi satu jaringan panjang yang
digabungkan dengan dilewatkannya melalui cairan atau udara hangat
yang disesuaikan.
Cairan spinning dapat dipaksa masuk melalui suatu lubang yang lebih
besar untuk menghasilkan monofilamen, pita atau lembaran. Filamen
digandakan dan diputar menjadi benang yang lembut dan menyerupai
sutra, atau dipotong menjadi serat dan pintalan. Rayon pintalan
dapat digunakan untuk mensimulasikan wol, linen atau katun.
Ada empat metode pembuatan rayon, dengan menggunakan material dan
proses yang berbeda :
 |
Dalam proses nitrocellulose yang dikembangkan oleh Chardonnet,
yang tidak penting lagi bagi komersial, selulosa diolah dengan
nitric dan sulfuric acid.
|
 |
Dalam proses viscose yang ditemukan pada tahun 1892, pengolahan
dilakukan dengan carbon disulfide, kemudian dicelup kedalam
caustic soda, dimasukkan ke spinneret, kemudian dikeraskan dalam
sulfuric acid. Rayon viscose adalah tipe yang paling penting
secara komersial, digunakan dalam hampir semua pakaian, bahan
furniture dan karpet.
|
 |
Untuk rayon cuprammonium, selulosa dicelup ke dalam copper
oxide dan ammonia, dipaksakan masuk ke lubang yang ukurannya
lebih besar dari diameter yang diinginkan, kemudian, dengan
proses yang dikenal sebagai "stretch spinning", ditarik
dan diputar dibawah tekanan untuk menghasilkan benang yang sangat
baik dan kuat, yang digunakan untuk bahan pakaian lembut dan
baju dalam.
|
Rayon yang diproduksi oleh ketiga metode tersebut
diklasifikasikan sebagai rayon regenerasi, karena hasil akhirnya,
sama seperti bahan awalnya, adalah selulosa.
|
 |
Tipe ke empat, saponified acetate rayon, berasal dari Inggris
tahun 1918, adalah derivatif acetate dari selulosa yang dibuat
dengan memasukkan selulosa dalam acetic acid, kemudian diolah
dengan acetic anhydride. Rayon acetate lebih tahan noda dan
kusut, diplasticiz dengan panas, dan membutuhkan dye khusus,
sehingga memungkinkan adanya efek two-tone dengan dye tunggal
ketika acetate dikombinasikan dengan serat lainnya. Sebuah filler
acetate digunakan untuk membuat gelas shatterproof. |
|
|